KOTA BEKASI (INFO PUBLIK) – Tokoh masyarakat Bantar Gebang, Wanardi, memberikan pesan keras agar berbagai kegiatan diskusi dan refleksi terkait masalah lingkungan tidak berhenti di atas kertas saja. Menurutnya, momentum pembahasan nasib TPST Bantar Gebang dan TPA Sumur Batu harus benar-benar melahirkan solusi, bukan sekadar seremoni.
Hal ini disampaikannya dalam kegiatan Refleksi Menuju Kedaulatan Lingkungan, Minggu (12/04/2026). Wanardi menilai bahwa forum diskusi model terbuka sangat bagus untuk membangun kesadaran, namun sayangnya selama ini sering kali mandek sebelum dieksekusi.
“Acara seperti ini bagus digelar. Tapi jangan sampai hanya jadi acara demi acara, semacam simposium atau seminar tanpa hasil nyata. Bukan tidak ada rekomendasi, sudah banyak. Tapi tidak ada yang mengawal sampai tuntas,” tegas Wanardi.
Kritik Tajam: Rekomendasi Hanya Jadi Dokumen Mati
Wanardi menyoroti fakta pahit bahwa selama ini banyak hasil pertemuan yang hanya menjadi dokumen tanpa eksekusi. Ia menegaskan, masalah tidak akan selesai hanya dengan bicara, butuh komitmen politik dan alokasi anggaran yang jelas.
“Jangankan sampai tingkat DKI, di tingkat kota saja penanganannya belum maksimal. Akhirnya, rekomendasi hanya tertumpuk menjadi dokumen mati. Padahal, untuk mewujudkannya dibutuhkan dukungan anggaran dan keberanian politik,” jelasnya.
Oleh karena itu, ia mendorong seluruh elemen, mulai dari media, LSM, hingga masyarakat, untuk terus melakukan pengawasan agar janji-janji dan usulan yang muncul bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga.
Desak Anak Bantar Gebang di DPRD Lebih Berani dan Konsisten
Secara khusus, Wanardi memberikan tantangan kepada para Anggota DPRD Kota Bekasi yang berasal dari daerah pemilihan Bantar Gebang, seperti Sarwin, Wildan, dan H. Anton. Ia berharap mereka bisa menjadi garda terdepan dalam memperjuangkan aspirasi warga.
“Sekarang ini momentum yang tepat. Anak-anak Bantar Gebang yang sudah duduk di kursi dewan harus lebih berani dan konsisten. Dari mulai rekomendasi sampai ke tahap eksekusi harus dikawal sampai tuntas. Itulah yang sebenarnya dibutuhkan dan ditunggu oleh masyarakat,” ujarnya.
Wanardi berharap, ke depan setiap kegiatan refleksi tidak hanya berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan kebijakan konkret yang menjadi solusi nyata atas persoalan lingkungan yang selama ini diderita warga sekitar. (*)
