BANDARLAMPUNG (INFO PUBLIK) – Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) memiliki dua pendekatan untuk mencegah dan menanggulangi stunting di Indonesia, yakni pendekatan sensitif dan spesifik . Hal tersebut diungkapkan Kepala BKKBN RI yang diwakili oleh Deputi Bidang Pengendalian Penduduk (Dalduk) BKKBN RI, Dr. Bonavius Prasetya Ictiarto,S.Si.,M.Eng.
“Kalau kita bicara stunting tentunya ada dua pendekataan, pendekatan pertama tentunya amanat untuk bisa menurunkan ke angka 14 persen, tapi kita tidak boleh lupa bahwa kita juga harus mencegah, tidak ada artinya kita sudah menurunkan angka stunting tapi kita lupa munculnya stunting-stunting yang baru, disinilah yang kita sebut dengan pendekatan sensitif,”
“Kalau pendekatan spesifik sudah jelas, sasarannya kita punya balita kita punya ibu hamil dalam seribu hari pertama ke depan, sasarannya bagaimana kita menjaga anak-anak kita untuk tidak stunting, tapi yang lebih penting adalah bagaimana mencegah munculnya stunting baru,” ungkap Dr. Bonavius Prasetya Ictiarto,S.Si.,M.Eng, pada Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) Kemitraan Tingkat Provinsi Lampung Tahun 2024 yang mengusung tema “Sinergitas Implementasi Program Bangga Kencana dan Percepatan Penurunan Stunting Bersama Mitra Kerja”, di Ballroom Hotel Golden Tulip, Jumat (11/10/2024).

Ia menjelaskan, BKKBN program terkait pendekatan sentitif.
“BKKBN punya banyak program sebenarnya, terkait dengan pendekatan sensitif untuk mencegah, dimulai dari remaja kita punya program GenRe Generasi Berencana untuk mencegah pernikahan usia anak, juga kita punya program-program elsimil seseorang yang mempersiapkan untuk menikah maka akan mengecek terlebih dahulu untuk kesehatannya,” jelasnya.
Bonavius melanjutkan, BKKBN tidak pernah melarang untuk menikah, hanya ingin merencanakan dengan baik.
“Bukan berarti kita tidak boleh atau melarang kita menikah, kami bukan mempersulit tapi merencanakan dengan baik, kalau sebelum menikah diperiksa kesehatannya baik yang laki-laki maupun yang perempuan, maka tentumya ketika mereka menikah kita sudah siap terutama secara kesehatan untuk merencanakan kehamilan, dan mempunyai anak yang sehat,” pungkasnya. (Sus)
