BANDAR LAMPUNG (INFO PUBLIK) – Fakultas Teknik Universitas Lampung (FT Unila) resmi menyelenggarakan Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) bersamaan dengan Seminar Pengabdian Masyarakat dan Inovasi (SENAPATI) tahun 2026. Berlangsung secara hibrida di Ballroom Lantai 11, Fave+ Hotel Bandar Lampung pada Senin (26/10/2026), agenda besar ini mengusung tema: “Sinergi untuk Lampung Emas: Kolaborasi Multi-Pihak dalam Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif.”
Acara ini bukan sekadar pertemuan ilmiah tahunan. SINTA & SENAPATI 2026 hadir sebagai wadah strategis yang mempertemukan dunia penelitian dengan kebutuhan nyata masyarakat. Tidak hanya akademisi, pemerintah, dan praktisi — suara dari kelompok rentan juga turut didengarkan untuk memastikan pembangunan benar-benar dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.
Pidato Utama Pemprov Lampung: Teknik dan Infrastruktur adalah Motor Lampung Emas
Perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung, Kepala Dinas Bina Marga dan Bina Konstruksi (BMBK) Provinsi Lampung, M. Taufiqullah membacakan pidato dari Gubernur Lampung.
“Visi Lampung Emas tidak bisa berjalan sendirian oleh birokrasi. Diperlukan peta jalan pembangunan yang inklusif, di mana ilmu teknik dan infrastruktur menjadi motor penggerak utamanya. Hasil riset dari universitas harus langsung diadopsi untuk menyelesaikan masalah nyata — mulai dari infrastruktur publik, manajemen kebencanaan, hingga konektivitas antar daerah di Lampung,” katanya.
Pemprov Lampung menegaskan, model kolaborasi pentahelix — pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media — adalah kunci agar pembangunan di Lampung benar-benar merata dan bermanfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Inovasi Harus Bisa Diakses Semua Orang
Dalam sesi pemaparan bertajuk “Dari Inovasi Menjadi Manfaat”, Dewi Mayang Suri Djausal, Ketua Harian Persatuan Komunitas Disabilitas Lampung (PKDL), menyampaikan catatan kritis yang menjadi penekanan penting dalam forum ini. Ia mengingatkan bahwa kemajuan pembangunan belum lengkap jika belum menjamin akses bagi semua kelompok masyarakat.
“Keberhasilan pembangunan sebuah daerah tidak boleh hanya dinilai dari megahnya infrastruktur fisik atau modernnya aplikasi digital. Manfaat tersebut baru bisa dirasakan secara adil apabila fasilitas tersebut dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali,” ujarnya.
Poin ini menjadi pengingat penting bagi para peneliti, perencana kebijakan, dan pelaksana pembangunan bahwa inklusivitas bukan sekadar pelengkap melainkan syarat mutlak agar inovasi benar-benar membawa manfaat bagi semua warga Lampung.
Komitmen Lebih dari Satu Dekade: Riset Harus Terus Dipublikasikan
Ketua Pelaksana Seminar, Martinus, menjelaskan bahwa penyelenggaraan agenda ini bukanlah hal baru, melainkan sebuah komitmen yang telah dijaga secara konsisten selama lebih dari sepuluh tahun.
“Sudah lama ini berjalan, mungkin sudah lebih dari 10 tahun. Karena memang ini komitmen dari komunitas teknisi bahwa penelitian-penelitian yang dilakukan harus ada diseminasi. Jadi, pada dasarnya kita mempublikasikan hasil-hasil riset tersebut agar dapat dimanfaatkan bersama,” ucapnya.
Dengan semangat itulah, SINTA dan SENAPATI digabungkan tahun ini. Tujuannya agar temuan-temuan ilmiah tidak hanya tersimpan di rak perpustakaan, tetapi benar-benar berubah menjadi solusi nyata di tengah masyarakat.
“Kami ingin hasil riset dari laboratorium tidak berhenti menjadi dokumen di atas meja. Ia harus berubah menjadi program nyata yang menyentuh kehidupan masyarakat langsung. Itulah tujuan penyatuan SINTA dan SENAPATI tahun ini,” tambahnya.
Dengan format hibrida, seminar ini membuka ruang partisipasi seluas-luasnya peserta tidak hanya hadir secara langsung di Fave+ Hotel, tetapi juga bergabung secara daring dari berbagai daerah di Indonesia. Cara ini memungkinkan gagasan inovatif menyebar lebih cepat dan menjangkau lebih banyak pihak, termasuk inovator dan praktisi dari kabupaten-kabupaten di Lampung yang selama ini terkendala jarak.
Langkah Konkret Menuju Lampung yang Lebih Maju dan Inklusif
SINTA & SENAPATI 2026 menjadi bukti nyata bahwa akademisi di Lampung siap berperan lebih besar dari sekadar pengajar. Mereka hadir membawa solusi teknis, inovasi terapan, dan program pengabdian yang siap dijalankan bersama pemerintah daerah — dengan satu catatan penting: pembangunan harus dapat dinikmati oleh siapa pun, tanpa pengecualian. Jika sinergi ini terus dijaga, cita-cita Lampung Emas bukan lagi sekadar visi, melainkan langkah nyata yang sedang dibangun bersama — dari riset, ke kebijakan, hingga terwujud di tengah masyarakat. (*)
