BI Lampung: Inflasi Oktober 0,54%, Tetap Terjaga Meski Risiko Global Mengintai

BANDAR LAMPUNG (INFO PUBLIK) – Inflasi Provinsi Lampung pada Oktober 2026 tercatat 0,54% (mtm), naik dibandingkan bulan sebelumnya yang 0,14% (mtm). Secara tahunan, inflasi Lampung berada di 3,83% (yoy), sedikit lebih tinggi dari angka nasional 3,23% (yoy). Meski ada kenaikan, Bank Indonesia menegaskan tekanan harga pangan mulai beragam, ada yang naik, ada pula yang justru turun.

Cabai, Bawang Merah, Beras Jadi Penyebab Utama Kenaikan

Kenaikan harga terutama didorong Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau. Cabai merah, bawang merah, beras, cabai rawit, dan tomat masing-masing naik 0,22%, 0,07%, 0,04%, 0,04%, dan 0,04% (mtm). Berakhirnya masa panen, menurunnya produktivitas pasca kemarau, serta dampak fenomena El Niño menjadi alasan utama menipisnya pasokan komoditas ini.

Sementara Harga Terong, Ayam, Minyak Goreng Justru Turun

Namun tidak semua naik. Terong turun -0,03%, daging ayam ras -0,02%, minyak goreng -0,02%, dan jagung -0,01% (mtm). Melimpahnya pasokan hasil panen dan lancarnya distribusi menjadi penahan laju inflasi bulan ini. Hasilnya, inflasi inti tetap terjaga terkendali di 0,02% (mtm).

Proyeksi: Tetap Dalam Sasaran, Tapi Risiko Harus Diantisipasi

Bank Indonesia memproyeksikan inflasi Lampung hingga akhir 2026 tetap berada dalam rentang sasaran nasional 2,5±1% (yoy). Meski demikian, sejumlah risiko tak boleh diabaikan: dampak El Niño yang masih terasa hingga awal tahun 2027, fluktuasi harga pangan dan energi global, serta potensi gangguan cuaca yang dapat mengganggu distribusi pangan.

BI & TPID Lampung Gerakkan Strategi “4K” Jaga Harga

Menjawab dinamika tersebut, Bank Indonesia bersama TPID Provinsi Lampung memperkuat pengendalian inflasi melalui empat pilar utama:

– Keterjangkauan Harga: Operasi pasar beras dan pemantauan harga secara berkelanjutan
– Ketersediaan Pasokan: Toko Inflasi, peningkatan produksi hortikultura, dan dukungan pasca panen
– Kelancaran Distribusi:  Jaring antar daerah, ketersediaan benih, dan fasilitas distribusi pangan
– Komunikasi Efektif: Sistem peramalan dini di 6 kabupaten/kota, pemantauan real-time, dan edukasi publik

Melalui langkah ini, BI berkomitmen menjaga harga tetap stabil sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah menghadapi risiko iklim dan fluktuasi harga global. (*)

Tinggalkan Balasan